4/15/2011

TOKOH (Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA)

Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA

Kali ini kita akan mengenal lebih dalam tentang sosok yang menjadi salah satu tokoh cendekiawan muslim di Indonesia yaitu Prof.Dr.H.Amien Rais, M.A. Beliau lahir di solo, 26 april 1944 dari sebuah keluarga muslim yang taat. Ayahnya bernama Suhud Rais, lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan ibunya Sudalmiah, alumni Hogere Inlandsche Kweek­school [HIK] Muhammadiyah dan pernah menjabat menjadi ketua aisyiyah se-surakarta. Jadi bisa diketahui bahwa Amien rais ini memang dari keluarga muhammadiyah tulen. Istrinya bernama Kusnariyati dan keduanya dikaruniai lima orang anak.
Pendidikan Amien rais tidak jauh berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dimulai dari tingkat TK sampai SMA semua dilaluinya di sekolah Muhammadiyah di kota kelahirannya, Solo. Setelah lulus dari SMA, Amien rais melanjutkan ke Universitas Gajah Mada (UGM) dengan mengambil fakultas sosial politik jurusan hubungan internasional. Selain kuliah di UGM, Amien rais juga menempuh kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Tarbiyah. Beliau menjalani kuliah di kedua tempat tersebut sampai pemerintah mengeluarkan larangan kuliah ganda. Setelah lulus kuliah di UGM, beliau melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat yang diselesaikannya pada tahun 1974 dengan gelar MA. Setelah pulang ke tanah air, tidak lama kemudian ia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program doktor di University of Chicago, AS dengan mengambil bidang studi Timur Tengah. Ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1981, dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan, dan Kebangkitannya Kembali).
Sejak masa mudanya Amien Rais merupakan sosok yang aktif berkecimpung dalam organisasi. Diawali dari kegiatannya di pandu Hizbul Wathan. Waktu itu beliau dipercaya menjadi pimpinan rajawali, suatu regu yang terdiri dari tujuh orang. Selama ia memimpin rajawali, regunya selalu memenangkan berbagai perlombaan. Dari situlah beliau mulai menyadari tentang bakatnya dalam hal kepemimpinan. Kemudian ketika menjadi mahasiswa, beliau termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di­percaya untuk mendu­duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta.
Selain berorganisasi beliau sangat menggandrungi kegiatan tulis menulis. Ketika beliau masih menjdai seorang mahasiswa, beliau telah menjadi penulis kolom yang tajam dan produktif. Sehingga tidaklah heran jiakalau beliau pada saat itu telah sering menulis berbagai macam artikel seperti mengisi di tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Koran Harian Mahasiswa yang legendaris di awal orde baru, dan pada saat itu pula beliau dianugerahi Zainal Zakse Award.
Nama Amien Rais tiba-tiba mencuat ke kancah perpolitikan Indonesia pada saat-saat terakhir pemerintahan orde baru presiden soeharto melalui kritikan-kritikannya yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Setelah partai-partai politik dihidupkan lagi pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Amien Rais ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia menjabat sebagai Ketua Umum PAN dari saat PAN berdiri sampai tahun 2005.
       Sebenarnya terjunnya Amien Rais ke dunia politik bukan berarti ia telah keluar dari muhammadiyah. Sebagai anak didik Muhammadiyah dan dilahirkan dari keluarga yang kental muhammadiyah, dedikasi dan kontribusinya sejak beliau aktif di organisasi kemahasiswaan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) di UGM maupun di IAIN hingga menjadi Ketua Majelis Tablig PP Muhammadiyah (1985-1990) dan selanjutnya masuk elite 13 selaku anggota PP Muhammadiyah hasil muktamar ke-42 diYogyakarta (1990) dan sampai menjadi Ketua MPR RI (1999-2004), perhatian dan sumbangsih beliau terhadap Muhammadiyah, baik secara moril maupun materiil tetap terus mengalir. Beliau memang tokoh yang patut dijadikan teladan bagi kamu muda saat ini, meskipun namanya pernah bersinar dalam dunia perpolitikan namun dedikasi dan kontribusi terhadap muhammadiyah yang pernah membesarkannya tak pernah surut. [Furi]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar