4/15/2011

HISTORY (kilas balik IMM)

KILAS BALIK IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964, bertepatan dengan tanggal 29 Syawwal 1384 H. Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran muhammadiyah itu sendiri. Di samping itu, pada awal kelahiran IMM juga merupakan respon atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah.
Semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres seperempat abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, PP Muhammadiyah yang diketuai oleh KH. Hisyam (Periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah.
Gagasan pembinaan kader di lingkungan mahasiswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa “ dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insyinyur, tetapi kembalilah kepada muhammadiyah” ( Suara Muhammadiyah, nomor 6 Tahun ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal  Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
 Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Dengan demikian pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi’atul ‘Aisyiyah untuk mahasiswa Puteri (1931).
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hal, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan, sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil.
Pada muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Akan tetapi untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk badan pendidikan kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerjasama dengan Pemuda Muhammadiyah.
Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul ‘Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane akan menjajagi pendirian HMI, dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi’atul ‘Aisyiyah.
Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya Pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi’atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (farid fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri dari komitmen politik dengan masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang “….. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi Pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah.”
Baru pada tahun 1961 (menjelang muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta) diselenggarakan kongres mahasiswa universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan departemen kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah lembaga dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, Dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh lembaga dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, lembaga dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM lokal Yogyakarta.
Tujuan akhir kehadiran ikatan mahasiswa muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi islam dalam rangka melaksanakan tujuan muhammadiyah. sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai kelompok pengajian mahasiswa yogya (farid fathoni, 1990: 102).
Atas prakarsa pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan musyawarah IMM se-daerah Yogyakarta pada tanggal 11 – 13 desember 1964 diselenggarakan musyawarah nasional pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan IMM lokal dari berbagai kota. Musyawarah nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya musyawarah nasional pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah nasional pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai ketua dan Rosyad Shaleh sebagai sekretaris) sampai diselenggarakannya musyawarah nasional pertama di Solo. Dalam musyawarah pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘enam penegasan IMM’, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga IMM, gerak arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain. (dikutip dari www.muhammadiyah.or.id) [Ef_Es]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar