4/15/2011

SALAM REDAKSI (edisi 1)

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah setelah sekian lama digadang-gadang tentang adanya Buletin fakultas tarbiyah, untuk pertama kalinya Buletin Fastabiqul Khairat bisa diterbitkan oleh hasil kerja sama antara Bidang Keilmuan dengan Bidang Dakwah PK IMM Fakultas Tarbiyah.
Setelah diterbitkannya buletin pertama ini, diusahakan terbitnya buletin edisi selanjutnya yang insyaAllah akan terbit secara rutin pada setiap bulannya.
Sebuah harapan dari kami, semoga buletin ini dapat menjadi salah satu ajang kreatifitas kader IMM Komisariat Fakultas Tarbiyah dan juga sebagai jembatan informasi antara PK IMM Fakultas Tarbiyah dengan dengan seluruh kader IMM secara umum, khususnya kader IMM Fakultas Tarbiyah, juga dengan masyarakat luas. Karena itulah isi dari buletin ini akan semakin baik dan kaya jika ada masukan dari pembaca tanpa terkecuali, khususnya terkait dengan apa yang selanjutnya menjadi bentuk kemajuan IMM Fakultas Tarbiyah.
Untuk Edisi Perdana, kami lebih fokus pada pembahasan tentang ke-IMM-an mulai dari sejarah hingga tokoh. Sebagai pengenalan IMM kepada kader IMM secara khusus maupun kepada masyarakat pada umumnya, selain itu ini juga dimaksudkan dalam rangka memperingati Milad IMM yang ke-47.
Akhirnya, kepada para pembaca, kami dengan segala macam kekurangan yang tentunya selalu kami harapkan koreksi, baik saran maupun kritik dari pembaca sekalian. Harapan kami, mudah-mudahan buletin Fastabiqul Khairat selanjutnya bisa terbit lebih baik lagi.
Semoga Allah selalu meridhai kita. Amin.

Billahi fii Sabiilil Haq, Fastabiqul Khairat.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.  

Tim Buletin Fastabiqul Khairat

HISTORY (kilas balik IMM)

KILAS BALIK IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964, bertepatan dengan tanggal 29 Syawwal 1384 H. Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran muhammadiyah itu sendiri. Di samping itu, pada awal kelahiran IMM juga merupakan respon atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah.
Semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres seperempat abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, PP Muhammadiyah yang diketuai oleh KH. Hisyam (Periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah.
Gagasan pembinaan kader di lingkungan mahasiswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa “ dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insyinyur, tetapi kembalilah kepada muhammadiyah” ( Suara Muhammadiyah, nomor 6 Tahun ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal  Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
 Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Dengan demikian pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi’atul ‘Aisyiyah untuk mahasiswa Puteri (1931).
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hal, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan, sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil.
Pada muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Akan tetapi untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk badan pendidikan kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerjasama dengan Pemuda Muhammadiyah.
Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul ‘Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane akan menjajagi pendirian HMI, dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi’atul ‘Aisyiyah.
Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya Pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi’atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (farid fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri dari komitmen politik dengan masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang “….. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi Pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah.”
Baru pada tahun 1961 (menjelang muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta) diselenggarakan kongres mahasiswa universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan departemen kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah lembaga dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, Dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh lembaga dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, lembaga dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM lokal Yogyakarta.
Tujuan akhir kehadiran ikatan mahasiswa muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi islam dalam rangka melaksanakan tujuan muhammadiyah. sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai kelompok pengajian mahasiswa yogya (farid fathoni, 1990: 102).
Atas prakarsa pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan musyawarah IMM se-daerah Yogyakarta pada tanggal 11 – 13 desember 1964 diselenggarakan musyawarah nasional pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan IMM lokal dari berbagai kota. Musyawarah nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya musyawarah nasional pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah nasional pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai ketua dan Rosyad Shaleh sebagai sekretaris) sampai diselenggarakannya musyawarah nasional pertama di Solo. Dalam musyawarah pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘enam penegasan IMM’, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga IMM, gerak arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain. (dikutip dari www.muhammadiyah.or.id) [Ef_Es]

TOKOH (Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA)

Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA

Kali ini kita akan mengenal lebih dalam tentang sosok yang menjadi salah satu tokoh cendekiawan muslim di Indonesia yaitu Prof.Dr.H.Amien Rais, M.A. Beliau lahir di solo, 26 april 1944 dari sebuah keluarga muslim yang taat. Ayahnya bernama Suhud Rais, lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan ibunya Sudalmiah, alumni Hogere Inlandsche Kweek­school [HIK] Muhammadiyah dan pernah menjabat menjadi ketua aisyiyah se-surakarta. Jadi bisa diketahui bahwa Amien rais ini memang dari keluarga muhammadiyah tulen. Istrinya bernama Kusnariyati dan keduanya dikaruniai lima orang anak.
Pendidikan Amien rais tidak jauh berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dimulai dari tingkat TK sampai SMA semua dilaluinya di sekolah Muhammadiyah di kota kelahirannya, Solo. Setelah lulus dari SMA, Amien rais melanjutkan ke Universitas Gajah Mada (UGM) dengan mengambil fakultas sosial politik jurusan hubungan internasional. Selain kuliah di UGM, Amien rais juga menempuh kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Tarbiyah. Beliau menjalani kuliah di kedua tempat tersebut sampai pemerintah mengeluarkan larangan kuliah ganda. Setelah lulus kuliah di UGM, beliau melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat yang diselesaikannya pada tahun 1974 dengan gelar MA. Setelah pulang ke tanah air, tidak lama kemudian ia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program doktor di University of Chicago, AS dengan mengambil bidang studi Timur Tengah. Ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1981, dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan, dan Kebangkitannya Kembali).
Sejak masa mudanya Amien Rais merupakan sosok yang aktif berkecimpung dalam organisasi. Diawali dari kegiatannya di pandu Hizbul Wathan. Waktu itu beliau dipercaya menjadi pimpinan rajawali, suatu regu yang terdiri dari tujuh orang. Selama ia memimpin rajawali, regunya selalu memenangkan berbagai perlombaan. Dari situlah beliau mulai menyadari tentang bakatnya dalam hal kepemimpinan. Kemudian ketika menjadi mahasiswa, beliau termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di­percaya untuk mendu­duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta.
Selain berorganisasi beliau sangat menggandrungi kegiatan tulis menulis. Ketika beliau masih menjdai seorang mahasiswa, beliau telah menjadi penulis kolom yang tajam dan produktif. Sehingga tidaklah heran jiakalau beliau pada saat itu telah sering menulis berbagai macam artikel seperti mengisi di tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Koran Harian Mahasiswa yang legendaris di awal orde baru, dan pada saat itu pula beliau dianugerahi Zainal Zakse Award.
Nama Amien Rais tiba-tiba mencuat ke kancah perpolitikan Indonesia pada saat-saat terakhir pemerintahan orde baru presiden soeharto melalui kritikan-kritikannya yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Setelah partai-partai politik dihidupkan lagi pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Amien Rais ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia menjabat sebagai Ketua Umum PAN dari saat PAN berdiri sampai tahun 2005.
       Sebenarnya terjunnya Amien Rais ke dunia politik bukan berarti ia telah keluar dari muhammadiyah. Sebagai anak didik Muhammadiyah dan dilahirkan dari keluarga yang kental muhammadiyah, dedikasi dan kontribusinya sejak beliau aktif di organisasi kemahasiswaan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) di UGM maupun di IAIN hingga menjadi Ketua Majelis Tablig PP Muhammadiyah (1985-1990) dan selanjutnya masuk elite 13 selaku anggota PP Muhammadiyah hasil muktamar ke-42 diYogyakarta (1990) dan sampai menjadi Ketua MPR RI (1999-2004), perhatian dan sumbangsih beliau terhadap Muhammadiyah, baik secara moril maupun materiil tetap terus mengalir. Beliau memang tokoh yang patut dijadikan teladan bagi kamu muda saat ini, meskipun namanya pernah bersinar dalam dunia perpolitikan namun dedikasi dan kontribusi terhadap muhammadiyah yang pernah membesarkannya tak pernah surut. [Furi]


CERPEN (Berkah Doa Seribu Cinta)

Berkah Doa Seribu Cinta


Rini menatap pantulan wajah di meja rias. Sesekali dia tersenyum. tangannya pelan menyisir rambut hitam sepinggang. Tak bosan dia mengusap rambut halusnya. wajahnya adalah telaga bening. kesempurnaan kecantikan tiada cela.
Sang ibu mengintip dari sela-sela pintu. Selalu ada kebanggaan saat melihat anak semata wayangnya berhias. Rini memang perhiasan yang paling indah baginya. kebanggan sekaligus penyemangat untuk mencari nafkah. Dia rela bangun dini hari, pergi kepasar membeli aneka lauk dan sayuran untuk keperluan dapur para tetangga. sendiri dia melakoni semua. Dia tak mempermasalahkan Rini yang enggan membantu. Dia pun tak ingin tubuh pualam putrinya tergores, terpapar bau amis ikan dan sengit bumbu dapur. Biarlah Rini sibuk belajar di salah satu universitas negeri di daerahnya. Rini mendapatkan beasiswa dari kampus tempat dia belajar karena Rini termasuk anak yang pandai.
Namun kebanggan itu hanya milik ibunya. Bertolak belakang dengan Rini yang sering malu jika teman-temannya tahu bahwa ibunya adalah tukang sayur berbadan ringkih dan berwajah jelek. Dia tak pernah mau jalan beriringan. Biar orang-orang tak tau, kecantikan bukan turunan. kalaupun terpaksa, dia akan mengaku bahwa perempuan itu adalah pembantunya.
Hari itu, wajah ibu Rini bersinar terang, anak semata wayangnya akan diwisuda sebagai sarjana ekonomi dan meraih peringkat terbaik, tidak sia-sia selama ini ibunya banting tulang mencari nafkah, dia bersiap diri pergi ke kampus untuk melihat anaknya diwisuda.
Di ruang gedung acara wisuda, Rini menyuruh ibunya untuk duduk agak jauh. Lagi-lagi dia tidak mau ada orang menanyakan hubungan mereka berdua. Tapi si Ibu sesekali mengajak Rini bicara. Seorang teman Rini yang memperhatikan bertanya, ”ibu itu siapa mbak?ibunya, ya? Rini gelagepan. Dia menjawab. ”eh, tidak. dia pembantu saya. si ibu sempat mendengar ucapan Rini. Godam besar menghantam dadanya. Dia tak percaya Rini bisa berbicara seperti itu. Kalimat itu membuatnya kecewa dan terluka. Mata ibu Rini berkaca-kaca. Ibu Rini tak semangat lagi, diam-diam dia meninggalkan gedung tempat Rini akan diwisuda.
Sampai suatu subuh, terdengar kabar bahwa Rini mengalami kecelakaan, mobil milik teman yang ditumpanginya menabrak truk pengangkut minyak. Temannya tewas ditempat sedangkan Rini, wajah dan tubuhnya hancur, tangan kanan patah, sebelah mata kirinya tertusuk pecahan kaca namun dia belum meninggal. Kondisi Rini kritis, sudah dua bulan Rini terbaring di rumah sakit. Tak ada tanda-tanda kesembuhan, layaknya mayat hidup, hanya jantungnya yang masih berdetak. Berita Rini yang susah meninggal tersiar luas. Bisik-bisik tetangga menduga, Rini pasti kena karma. Selama ini telah merendahkan ibunya. Sampai suatu ketika ada seorang ustadz, ustadz tersebut mendatangi ibu Rini dan berkata. “Apakah benar Rini telah menyakiti ibu?”
Ibu Rini tak menjawab. Matanya mulai sembab. “Apa ibu mau, anak ibu terus merasakan sakaratul maut yang tanpa akhir?, ibu tak mau memaafkan dia?”
Pecah sudah bendungan di mata tua itu. Ibu Rini menangis, dia kemudian mau memaafkan segala kesalahan Rini. Dan masuk kedalam ruang dimana Rini dirawat. Kemudian ibu Rini memberi kekuatan pada anaknya yang berbaring tak berdaya itu, dengan berbisik di telinga anaknya dan berkata ”ibu telah memaafkanmu nak, pergilah dengan tenang, ibu selalu menyayangimu. ” Sesaat kemudian Rini tersengal sejurus kemudian Rini meninggal dunia. Si ibu memandangi anaknya tercinta denagn pandangan nanar, anak semata wayangnya telah meninggalkannya seorang diri, kemudian ditutuplah wajah anaknya dengan selimut, ibu Rini bersimpuh di lantai rumah sakit dan menengadahkan tangannya, mengharap bahwa anaknya terlindungi oleh seribu cinta darinya…[Lena]



OPINI (IMM sayap dakwah Muhammadiyah)

IMM sayap dakwah Muhammadiyah

Oleh : Dani Fadillah, S.I.Kom (Ketum PC IMM Kab. Sleman 2010-2011)

Pada tanggal 14 Maret, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah genap berusia 47 tahun. Jika diumpamakan sebagai manusia maka usia ini normalnya telah cukup makan asam garam dalam mengarungi hidup. IMM dapat dikatakan bukanlah sebuah organisasi kemahasiswaan biasa, dari nama yang disandangnya jelas terlihat bahwa IMM adalah organisasi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah, bahkan secara resmi Muhammadiyah mengakui bahwa IMM  adalah “anak kandungnya”, terbukti dengan menjadikan IMM sebagai salah satu organisasi otonom (ortom) milik Muhammadiyah.
Kemudian satu pertanyaan terucap, masih mampukah IMM saat ini menanggung beban berupa nama besar Muhammadiyah di punggungnya? Pertanyaan ini terlontarkan tak lain disebabkan dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah adalah sebuah organisasi dakwah Islam yang menyebarkan spirit  amar ma’ruf nahi munkar ke seluruh pelosok negeri, dan untuk menjalankan misinya itu maka yang dibutuhkan Muhammadiyah adalah sebuah perkaderan yang optimal untuk menghasilkan para penerus perjuangan persyarikatan, dimana tentu saja dalam proses perkaderan itu berlangsung dalam tubuh ortom, termasuk IMM di dalamnya. Bila kita belajar dari sejarah, jauh sebelum didirikannya IMM, tokoh-tokoh terkemuka Muhammadiyah pada masa itu, KH Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, dan  H Agus Salim, membentuk sebuah organisasi kepemudaan yang dikenal dengan nama Jong Islamieten Bond (JIB) yang memiliki misi untuk mempelajari agama Islam dan mengamalkannya, menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, serta mengembangkan toleransi terhadap agama maupun ideologi lain. Dengan terbentuknya JIB ini, seorang peneliti Barat, John Ingelson, sampai mengatakan bahwa posisi JIB sangat sentral dan vital untuk membendung arus sekulerisasi dan westernisasi yang secara sistematis dilakukan  oleh penjajah Belanda. Maka tidak salah jika KH Ahmad Dahlan dan kawan-kawan menyerahkan kepercayaan pada JIB agar dapat melahirkan para intelektual muslim yang menguasai basis-basis pengilmuan Islam secara matang agar dapat melanjutkan gerakan Muhammadiyah selaku organisasi dakwah.
Setelah kita sejenak melihat sejarah, bandingkan JIB waktu itu dengan IMM saat ini. IMM sebagai ortom yang dipercaya oleh Muhammadiyah untuk mematangkan kader-kader persyarikatan dari lingkungan mahasiswa yang notabene adalah kaum muda yang masih memiliki semangat tinggi dalam berdakwah, masihkah mampu menjalankan tugasnya? Sebab jelas terlihat bahwa dengan tidak jarang munculnya konflik kepentingan yang mengarah pada pragmatisme dalam tubuh IMM, yang sampai menyingkirkan dan mungkin sampai melupakan statusnya sebagai sayap dakwah Muhammadiyah di kalangan mahasiswa, maka jangankan di Perguruan Tinggi non Muhammadiyah (non-PTM), di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) pun IMM bisa sampai kehilangan kepercayaan sebagai organisasi sayap dakwah Muhammadiyah yang dapat melahirkan intelektual muslim dengan berbagai pengilmuan Islamnya.
Lihat saja ketika ada pertemuan-pertemuan besar seperti tanwir maupun muktamar, suasana yang muncul sering sekali kelewat politis dan sepi kajian keislamannya. Sesi-sesi yang dirancang untuk kajian keislaman minim peminat dan sepi bagaikan kuburan. Akan tetapi ketika bagian pemilihan ketua umum, para pesertanya bagaikan sudah terlatih sedemikian rupa  dengan kiat-kiat dan manuver politiknya, bahkan ada yang politicking atau politik dagang sapi layaknya partai politik. Tanpa sadar bahwa fenomena ini melahirkan kejenuhan pada diri angkatan baru muslim muda, yang akhirnya lahirlah hukum besi sejarah: membentuk wadah-wadah baru yang dinilai lebih bisa merelevansikan nilai-nilai keislaman dan terbebas dari berbagai kepentingan! Persis seperti berdirinya JIB.
Walhasil gerakan kajian Islam di kampus-kampus seperti majelis ta’lim atau lembaga dakwah masjid kampus jauh lebih memiliki paralelisme dengan JIB yang dibangun oleh tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah daripada IMM yang notabene adalah anak kandung Muhammadiyah itu sendiri. Artinya mereka (kelompok kajian Islam kampus non IMM), baik yang ada di PTM maupun non PTM, lebih memiliki kepekaan terhadap tantangan Islam, lebih memiliki spirit perjuangan, dan beretos perlawanan terhadap sekulerisasi dan westernisasi, dan IMM terlalu asyik berpolitik di dalam menara gading. Tegasnya, mereka yang “bukan siapa-siapa” justru lebih ketat dengan cita-cita Muhammadiyah daripada IMM yang diakui sebagai anak kandung oleh Muhammadiyah.
Maka sudah saatnya bagi para aktivis IMM untuk mengakhiri segera bentuk politisasi dalam tubuh ikatan, menciptakan sebuah stabilitas demi tercapainya tujuan yang diembankan ke pundak IMM oleh Muhammadiyah jauh lebih penting daripada perjuangan untuk mempertahankan politik kepentingan yang mengarah pada pragmatisme dalam tubuh ikatan. Lebih dari itu, dalam dinamika nasional IMM pernah sebegitu solidnya tanpa ada konflik kepentingan, berperan besar dalam sejarah nasional dengan spirit dakwah di dalamnya. Maka alangkah sayangnya jika hal itu hanya menjadi romantisme sejarah yang tidak bisa terulang lagi.[]


   

KABAR (IMM fak. Tarbiyah gelar DAD, out bond basysyar, semarak milad IMM ke-47))

IMM Fakultas Tarbiyah Gelar DAD

KLATEN - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mengadakan DAD pada 11-13 Februari 2011 di PKU Muhammadiyah Gantiwarno Klaten, dengan tema “Peneguhan Karakter Kader IMM dalam Dinamika Pergerakan Mahasiswa”.
Pengkaderan yang berlangsung selama 3 hari ini diikuti oleh 14 kader, 7 immawan dan 7 immawati. Minimnya kader yang ikut, tak membuat fasilitator dan panitia kecewa, tetapi hal tersebut dijadikan sebagai batu loncatan untuk bisa mencetak kader yang berkarakter.
Ditengah dinamika mahasiswa yang carut marut, IMM dituntut untuk bisa mencetak kader yang berkarakter sesuai dengan trilogi IMM meliputi Keislaman, Keilmuwan dan Kemasyarakatan.Untuk membentuk karakter kader yang sesuai dengan trilogi IMM, maka materi yang disampaikan juga berhubungan denga trilogi tersebut yaitu ke-Islaman, ke-Muhammadiyahan dan ke-IMMan.
Foto: Keceriaan di akhir acara DAD
Materi ke-Islaman disampaikan oleh Dr.Okrizal Eka Putra, dosen UIN Sunan Kalijaga. Materi ini membahas tentang toleransi dalam beragama ditinjau dari perspektif multikulturalisme dan pluralisme. Materi ke-Muhammadiyahan disampaikan oleh Farid Setiawan, dosen Universitas Ahmad Dahlan. Materi ini lebih fokus pada Dakwah Kultural. Materi yang ketiga yaitu keIMMan, disampaikan oleh immawan Amrullah Umar yang juga merupakan kabid Bidang Kader DPD IMM DIY, materi ini membahas tentang massifitas IMM, problematika yang dihadapi IMM di masa yang lalu dan sekarang dan bagaimana menghadapi problematika tersebut.
Adapun materi tambahan yaitu pelatihan jurnalistik yang ditujukan bagi seluruh elemen IMM, materi ini disampaikan oleh immawan Ardi Wahdan yang juga merupakan alumni IMM komisariat Tarbiyah dan saat ini bekerja di salah satu media cetak lokal di Yogyakarta.
Antusiasme kader terlihat saat mengikuti materi-materi yang disampaikan oleh pemateri. Mereka terlihat khusyu dan penuh semangat. “Saya sangat bersemangat mengikuti pengkaderan ini karena selain mendapat teman yang baru juga mendapat ilmu yang berbeda dari yang diajarkan di kampus” ujar Tanjung, salah satu peserta DAD. [Dilla]


Out Bond Basysyar



Foto: Melepas lelah setelah menyelesaikan
salah satu permainan
BANTUL-Minggu, tepatnya tanggal 6 Maret 2011, warga baru Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, angkatan 2010 yang bernamakan “Basysyar” telah dilantik pada Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan di PKU Gantiwarno-Klaten, pada tanggal 11-13 Februari 2011 oleh para anggota PK IMM Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ex. DAD angkatan 2010 ini telah merealisasikan salah satu program yang telah disusunnya, yaitu program follow up, outbond di kebun buah Mangunan, Imogiri, Bantul. 
        Outbond berlangsung mulai dari pukul 07.30 WIB dan selesai pada pukul 16.00 WIB. Dan outbond ini diikuti oleh 20 peserta dan didampingi oleh 4 trainer, yaitu antara lain Immawati Yuli, yang merupakan salah satu alumni dari UIN Sunan Kalijaga yang juga merupakan alumnus PK IMM Fakultas Saintek, kemudian Immawan Lukman Hajir dan Immawati Rohana Fitria dari PK IMM Fakultas Tarbiyah, serta Immawan Roni Saputra dari Ushuluddin. 
       Dalam outbond tersebut terdapat empat area permainan, yaitu permainan tali genit, ular berangka, ular balon, dll. Masing-masing permaianan dalam outbond ini memiliki sebuah makna terutama untuk memupuk kebersamaan dan memperkuat tali persaudaraan antara para kader IMM Basysyar dengan pimpinan komisariat IMM Fakultas Tarbiyah, supaya dalam menjalankan amanah sebagai organisasi dakwah dapat lebih maksimal dan semakin berkemajuan.[Ana]


Semarak Milad IMM ke-47



Foto: Juri menilai salah satu hidangan dalam lomba
SLEMAN - Aura kemeriahan Milad IMM ke 47 begitu terasa di lingkungan PC IMM Kab. Sleman. Sebagai agenda tahunan yang rutin diselenggarakan oleh PC IMM Sleman, semarak Milad IMM pada tahun ini tidak kalah dengan tahun-tahun sebelumnya. Berbagai kegiatan sejak sabtu (13/3/2011) mulai diadakan guna memeriahkan agenda tahunan tersebut. Diawali dengan lomba futsal, kemudian ditaruskan dengan lomba lian seperti lomba masak, debad, catur, orasi, sampai lomba duet gitar ternyata mendapat sambutan yang  cukup besar dari para kader IMM untuk ikut memeriahkannya.
Setelah selama 1 minggu penuh kemeriahan Milad ini diadakan, sebagai malam puncaknya yaitu diadakannya makrab yang bertempat di pantai Depok pada sabtu malam (19/3/2011). Dengan acara pembagian hadiah, dan kegaitan-kegiatan lain yang tentunya diharapkan dapat menguatkan rasa kekeluargaan antar kader IMM Sleman.
Mudah-mudahan dengan peringatan ini kita dapat selalu mengenang perjuangan pendahulu kita dalam memperjuangkan IMM dan memupuk semangat kita untuk berjuang di IMM dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan.[Uchee]

TIPS (agar tidak cepat pikun)

Agar Tidak Cepat Pikun

Sering lupa dimana menaruh kunci atau benda penting lain? Jangan takut, itu belum tentu gejala menderita Alzheimer. Berikut terdapat kiat agar kita tidak cepat pikun atau pelupa. 
              ~ Beri makan otak
Anda adalah yang anda makan. Kalau banyak makan junk food, maka otak kita akan jadi sampah juga. Lemak dalam makanan berkadar lemak tinggi bisa berimbas buruk pada sinaps otak. Sinaps adalah bagian yang menghubungkan neuron otak yang sangat pentig dalam proses belajar dan mengingat. Untuk menyehatkan bagian ini, perbanyak makan ikan salmon, buah kiwi, atau semua makanan yang mengandung asam lemak dan omega-3. 
~ Lakukan olah raga
Olah raga bisa meningkatkan daya ingat, berfikir lebih jernih dan mengurangi resiko penyakit kognitif. Sebab olah raga akan mengurangi tekanan pada tubuh, memompa energi lebih banyak ke otak. Aktifitas ini  juga memicu pelepasan bahan kimia yang menguatkan neuron. Cukup setengah jam saja setiap hari. Jangan lupa lakukan peregangan otot dulu ya..
            ~ Olah otak
Mengisi TTS, min games memori, ternyata games sederhana itu merupakan kegiatan mengolah otak untuk mencegah kepikunan. Aktifitas ini menstimulasi otak sehingga otak kita terlatih untuk selalu mengingat-ingat alias tidak melas berfikir. Semua itu membuat otak kita  selalu siap bekerja kapan saja, tidak mogok. 
~ Trik memori
Sedikit mirip dengan yang diatas, kegiatan ini membiasakan kita mengingat-ingat dan mengontrol daya ingat. Membuat prediksi juga bisa membantu proses daya ingat. Latihan ini berguna sebab terkadang kita punya suatu ide, tapi kita lupa data-data lain yang bisa mendukung ide tersebut.
·         ~ Istirahatkan
Walu otak kita genius, kalau dipakai terus juga akan lelah. Maka beri istirahat agar kelak bisa bekerja lebih baik lagi. Sebuah studi mengatakan, tidur 90 menit di siang hari bisa membantu kinerja otak. [Ganis]


SASTRA (cinta pendusta)

CINTA PENDUSTA

Cinta pendusta
Seperti laut kering
Gurun gersang
Langit hitam pekat
Hati yang tersakiti dan penuh dusta
Berharap hilang dan mati
Tapi masih diharap agar hidup dan pulih kembali
Trus membohongi dan dibohongi
Atas nama cinta dan pengorbanan
Yang sekedar pelukan ciuman dan kata-kata mesra
Tetapi tak ada jiwa yang mengakui
Sebuah penderitaan sekaligus kesenangan
Yang akan membawa kita pada penyesalan yang akan terulang
Sia-sia dan hancur
Bersama kesenangan dan kesetiaan semu….

Jangan pernah berhenti karena penolakan dan cacian
Semakin banyak penolakan semakin yakin usaha kita akan berhasil…
Biarkan semua cobaan ini membuat kita kuat
Biarkan derasnya arus membuat kita semakin tangguh
Biarkan jiwa-jiwa optimis membuat kita bijak menyikapi hidup
Biarkan jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk ditengah segala duka
Hingga kelak akan terjawab”mengapa perjuangan kita terasa berat dan pahit??
Karena segalanya akan berakhir indah dan manis…..
[Leni]



Add caption